HILANGNYA FESTIVAL HARIAN MA AL ANWAR

MA Al Anwar Sarang, yang berlokasi di  Gondanrojo, Kalipang, Sarang dikenal masyarakat dengan ratusan santri dari berbagai kalangan dan daerah seluruh indonesia. Mulai dari pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, semua ada. Keberagaman ini sering kali menciptakan kondisi sosial yang yang baru serta penuh intrik.

Mereka berbaur seakan-akan tanpa ada celah yang mampu ditembus perpecahan, santri satu dan yang lain dapat beradaptasi dengan cepat di atas segala keberagaman. Selera mereka dapat diasumsikan dalam satu wadah, yaitu Al Anwar. Jadi, kesehaian yang mereka jalankan adalah adat istiadat setempat yang mungkin tak dijumpai di daerah masing-masing. Namun para santri dapat berakulturasi dengan baik, kemudian mulai melakukan segala hal yang sudah menjadi rutinitas di Sarang.

Hal ini dapat kita saksikan pada kegiatan pembelajaran di madrasah. Santri putri dari kelas X- XII yang jumlahnya hampir 600-an mampu menciptakan berbagai peluang bagi masyarakat sekitar, mulai dari penunjang ekonomi serta menjadi rubrik permasalahan.

Suasa jam istirahat di halaman MA Al Anwar

Dalam segi positif santri putri dapat membantu memutar roda perekonomian masyarakat, dengan jasa pembelian prodak masyarakat yang berupa barang konsumsi. Mulai dari jajanan tradisional hingga jajanan khas dari seluruh indonesia. Namun ada satu jenis makanan istimewa yang menjadi citarasa tinggi di lidah para santri, apa lagi kalau bukan petis. Kata legendaris itu menjadi icon bagi masyarakat Sarang, yang lokasinya berada di pesisir.

Selain itu jajanan seperti syomay dan seblak menjadi favorit para santri. Sejumlah pedagang mengungkapkan, santri Al Anwar itu kalau sudah jajan pasti menghambat lalulintas karena sangking banyaknya yang keluar gerbang.

“Namun dibalik keramain yang tercipta, mereka mampu menyongkok perekonomian kami. Penghasilan kami bisa dibilang lumayan perharinya” Ungkap seoang pedagang yang enggan disebut namanya.

Dari segi negatif para santri ini menciptakan kemacetan lalulintas antar desa, karena lokasi pedagang berada di seberang jalan. Tak jarang santri berada di tengah jalan saat membeli jajanan, lalulintas jadi terhambat. Sebagian dari masyarakat merasa terganggu karena jam istirahat santri bertepatan dengan jam berangkat  kerja mereka.  Meski hal ini dianggap lazim terjadi di sekitaran madrasah.

Suasana berbeda dapat dirasakan saat bulan Ramadhan, jelas sebabnya seluruh santri serta pedagan sedang menjalankan ibadah puasa. Jadi halaman nampak sepi, meski ada beberapa penjual yang tetap berjualan mainan. Saat sepertini seakan-akan fetival yang tercipta setiap harinya lenyap tanpa jejak. Suasana yang biasanya ramai berubah menjadi hening.

Semoga Ramadhan menjadi ladanag barokah yang siap panen bagi seluruh umat islam, serta menjadi bulan penuh kemulyaan untuk melaksanakan segalamacam amal sholeh.

اللهم فارق الفرقان ومنزل القرأن بالحكمة والبيان بارك اللهم لنا في شهررمضان

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *